Metode Meloloh Anakan Murai Batu Baru Menetas

Posted on
Metode Meloloh Anakan Murai Batu Baru Menetas
Metode Meloloh Anakan Murai Batu Baru Menetas

Metode Meloloh Anakan Murai Batu Baru Menetas – Merawat anakan burung murai batu yang baru menetas tidaklah mudah, ada cara dan metode meloloh anakan murai batu yang baru menetas yang harus di pahami oleh peternak. Anakan Burung Murai Batu harus diloloh makanan dengan menggunakan tangan agar burung tersebut menjadi jinak dan lebih cepat beradaptasi dengan manusia.Kalau induknya yang melolohkan makanan, maka anakan Murai Batu tak akan mau menerima lolohan dari manusia. Usia memanen anakan Murai Batu yang terbaik yaitu pada usia 7-10 hari, karena kelopak mata anakan Murai Batu sudah terbuka pada usia-usia tersebut. Artinya, anakan Murai Batu sudah bisa melihat induknya dan melihat lingkungan sekitar. Seperti yang disebutkan di atas, kalau anakan Murai Batu sudah melihat induknya, maka Anda akan kesulitan melolohkan makanan ke Anakan Murai Batu. Jika Anda sedikit saja melakukan kesalahan dalam perawatannya atau tidak konsiten dalam memberikan makan, maka bisa jadi anakan Murai Batu akan merasa kelaparan dan akhirnya mati.

Metode Meloloh Anakan Murai Batu Baru Menetas

1. Siapkan Peralatan Pendukung

Sebelum memisahkan anakan murai batu, siapkan wadah seperti kardus, besek, hantaran kecil dari rotan, atau wadah apa saja asalkan bersih dan terbuat dari bahan yang tidak terlalu keras. Wadah ini dilamurai batuari dengan bahan yang sama dengan bahan penyusun sarang di kandang penangkaran. Tutup bagian atas dari bahan penyusun sarang itu dengan kapas agar lemurai batuut dan tidak melukai anakan murai batu. Tempatkan anakan ke dalam wadah tersebut, kemudian dimasukkan ke dalam kotak inkubator yang bisa dibuat sendiri, atau bisa juga dibeli dari toko perlengkapan burung.

Kotak inkubator buatan sendiri bisa dipasangi lampu pijar 5 Watt, dengan jarak antara lampu dan sarang sekitar 20 cm. Pada umur 5-10 hari, usahakan suhu di dalam boks sekitar 33 – 35 derajat Celcius. Setelah itu dikurangi secara bertahap hingga mendekati suhi kamar (sekitar 30 derajat Celcius).

2. Bahan makanan dan frekuensi pelolohan

Makanan yang akan dilolohkan pada tahap awal (usia 5-10 hari) adalah kroto yang benar-benar bersih dari kotoran (termasuk bangkai semut). Setiap kali mau dilolohkan, celupkan dulu kroto ke dalam air matang, untuk memudahkan anakan murai batu dalam menelan makanan. Makanan ini langsung dilolohkan ke paruh anakan murai batu, dengan alat bantu berupa penjepit (bisa dibuat dari bilah bamurai batuu yang sudah dihaluskan sepanjang 10 cm, kemudian ditekuk jadi dua di bagian tengah).

Frekuensi pelolohan bisa dilakukan setiap jam sekali. Biasanya seekor anakan murai batu cukup diberi 4-5 butir kroto setiap kali makan. Jika setelah diloloh, namun piyik masih cuap-cuap samurai batuil memurai batuuka paruhnya, Anda tetap harus disiplin dengan porsi itu. Cuap-cuap samurai batuil buka paruh bukan berarti piyik masih lapar. Tetapi matanya belum melek, atau kalau sudah melek masih samar-samar, maka cuap-cuap menjadi salah satu cara bagi piyik untuk berinteraksi dengan lingkungan luar. Pada umur 7 hari, Anda bisa meningkatkan menu sajian dengan menambahkan sedikit voer dan vitamin ke dalam kroto.

Pemurai batuerian voer dimaksudkan untuk memurai batuiasakan murai batu mengkonsumsi pakan tersebut di kemudian hari. Beberapa penangkar pernah menceritakan pengalamannya, ketika anakan murai batu hanya diloloh kroto selama 1 bulan, tanpa menu lainnya. Ternyata anakan tersebut gampang sakit, bahkan kedua kakinya terlihat pengkor.

Ini karena kroto mengandung protein tinggi, tetapi kandungan vitamin dan mineralnya tidak lengkap. Padahal, hanya itulah pakan yang dikonsumsi anakan murai batu. Itu sebabnya, dianjurkan untuk memurai batuerikan voer, juga multivitamin dan aneka mineral yang diperlukan bagi anakan murai batu.

3. Pemindahan ke sangkar gantung

Kapan anakan murai batu mulai dipindahkan ke sangkar gantung? Lingkungan sangkar jelas sangat berbeda dari lingkungan sarang tempat anakan murai batu sebelumnya. Di dalam sangkar, burung akan menjumpai bahan-bahan yang lebih keras, seperti jeruji dan dasar sangkar, serta tenggeran. Untuk itu, sebelum dipindahkan ke sangkar, pastikan anakan murai batu sudah mulai meloncat-loncat kuat di dalam boks sarang. Biasanya pada umur 10-11 hari, anakan murai batu sudah bisa meloncat-loncat, dan pada hari ke-15 mulai belajar terbang. Agar tidak stres, sekaligus menghindari risiko cedera (terutama patah kaki yang kerap dialami anakan murai batu), bagian dasar sangkar harus tetap dilamurai batuari dengan bahan penyusun sarang. Jadi, kalau terjadi apa-apa, burung tetap aman dari risiko cedera.

Sediakan dua tenggeran yang dipasang secara sejajar, dengan jarak agak rapat, dalam posisi tidak terlalu tinggi dari dasar sangkar. Tenggeran sejajar akan memurai batuuat anakan murai batu belajar meloncar dari tenggeran yang satu ke tenggeran kedua.